 |
 Selamat Datang Tamu
Keanggotaan:
Terakhir: gotakan
Yang baru hari ini: 0
Yang baru kemarin: 0
Semuanya: 577
Orang yang Online:
Member: 0
Pengunjung: 3
Total: 3
Who Is Where:
Pengunjung: 01: Forum Diskusi
02: Depan
03: Depan
Staff Online:
No staff members are online! |
|
|
 |
Jika anda menyukai Komunitas Kami ini dan ingin menyumbangkan dana, anda boleh menyumbangkan dana seberapapun kepada kami, kami akan sangat menghargai sumbangan Anda.
semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik kepada Anda. |
|
|
 |
Kami sudah menampilkan 4504426halaman sejak 2003 |
|
|
|
|
Forum Diskusi › FORUM UMUM dan KEAGAMAN › Tarekat/Tasawuf › Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah
INFO PESANTREN
Pengirim |
Message |
 |
SUBEQI Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Apr 30, 2008 Post: 98 Lokasi: Depan Pasar Durenan Trenggalek Jawa Timur
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 1:52 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Bid’ah ? bohong kalo ulama ga tahu masalah ini ! kenapa mereka melakukan maulid, bohong kalo ga ngerti, mungkin yang belum ngerti atau ga mau ngerti adalah kita ! katanya Maulid untuk membangkitkan semangat islam dengan cara memperdengarkan sejarah Rosul dan menceritakan sifat sifat Beliau Saw serta memuji akhlaqnya, boleh ga ya yang begini ? soal cara ? bid’ah itu pasti, kita juga berdakwah boleh ga ya ? soal cara ? banyak yang bid’ah, contohnya dakwah pake internet, radio, televisi, menghadirkan penceramah dll. nah pikirin dech !
_________________
Brawijaya elektronik durenan
telp. 0355 879823
ym be.elektronik |
|
|
|
 |
arifatul Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Nov 21, 2007 Post: 345 Lokasi: Jl.Kolonel Sugiono Ngingas Selatan Waru Sidoarjo jawa Timur Indonesia
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 2:00 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
menurutku sah-sah saja orang mau merayakan maulid Nabi,selagi ini tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam. kalau hari ulang tahun kita aja dirayain kenapa kelahiran orang termulia kita tidak dirayain???
_________________
|
|
|
|
 |
aqinuel Luar Biasa Aktifnya

Sejak: Jan 14, 2009 Post: 342 Lokasi: rt 01 rw 02 kedungwilut-bandung-tulungagung-east java-idn.
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 6:59 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Assalamualaikum
kata2 seorang muslim masalah hukum,harus berdasar qur'an dan hadits,jadi seharusnya kita ngaca diri dulu berapa luas kita sudah membaca alhadits.
Mbak eni saya pengen ngajak anda menelaah beberapa hal:
1.Mengenai da'wa2 anda dlm point pertam
a.Dlm hadits riwayat Bukhari&Muslim Rasulullah saw.Bersabda dalm menanggapi puasanxa yahudi di hr 'asyuro dlm memperingati kemenangan Nabi Musa as;"kami (muslmin) lebih behak atas musa drpd kalian"dan dlm hadits laen dsbtkan Rasulullh mengimbau para sahabtnya untk puasa 'asyuro'untk memperingti Musa as.
b.Kalo Nabi Musa aja kita diimbau untuk menperingtinya,shrusnya kita yg tau bhwa Rasulullah saw.Lbh utama dr Musa as,justru harus memperingati hr kelahiran Rasul saw,kalo kita bnr2 berakal.
c.Nabi saw,diutus rahmatan lil'alamin tentu saja Rasul tdk mau memberatkn umtNya.Hal diriwytkan HR.bukhari muslim Rasul brsbda;"aku takut bahwa shalat malam ramadhan ini akan diwajbkan atas kalian".Shrusnya umat yg berakal justru memperbnyak shalat&amal ibdah.
_________________ Kuangen pd Ibu,bpk,saudara2i,pengen sungkem minta maaf, setelah it matipun rela.........
(Homesick mode on) |
|
|
|
 |
aqinuel Luar Biasa Aktifnya

Sejak: Jan 14, 2009 Post: 342 Lokasi: rt 01 rw 02 kedungwilut-bandung-tulungagung-east java-idn.
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 7:17 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
d.Sebagai umat yg berakal justru semampunya memperbanyak ibadah,bukan karna merasa lbh utama dr Rasul saw,tp justru imtithal atas anjuran2Nya.Coba mbak eni baca di hadits2 bahwa sayyid Ali zainal abidin yg shalat malam sampe 1000 rakaat apakah beliau mrs lbh utama dr Rasul saw.Justru sebagai Rasul akan merasa bangga jk ummatNya melaksanakan ibdah dan memperbnykny,karna illah yaitu kekawatiran pemberatan pd Ummat sudah tidak ad lagi.
2 dlm hal tasyabuh saya kira itu cm tahakkum(hukum tnpa dalil)dari mbak eni,karna maulid hanya untuk memperingati ni'mah yg paleng besar bg ummat ini yaitu lahirnya Rasul saw,dan ini berbeda dgn umat nasrani karena mereka memperingati isa as dengan mengangktnya sbgai tuhan,lantas siapa ummat islam yg mengangkat Rasul saw sbgai tuhan??,maulid itu cm membaca sejarah/biaografi Rasul saw bersama2 lantas siapa yg melarang ini?!Kalo biogarafi para ulama aja dianjurkan untk di bc,lantas bagaimna dgn biografi Rasul?Tentunya sbgai ummat yg berakal kita harus memprbnyk memprngati Rasul saw.
_________________ Kuangen pd Ibu,bpk,saudara2i,pengen sungkem minta maaf, setelah it matipun rela.........
(Homesick mode on) |
|
|
|
 |
nizya Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Mar 20, 2008 Post: 153
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 7:31 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
aneh memulyakan nabi di katakan bid'ah ... klo memulyakan pohon itu br bid'ah ... dipikir secara nalar aja dl dech.... klo mengatakan semua bid'ah tertolak ya sana hidup aja di masa rosululloh jgn naek mobil jgn sekolah di madrasah ato pesantren...... jgn makan tempe jangan makan kentucky.... klo naek haji jalan kaki ato naek unta jgn naek pesawat...
kata mbak eni..
1. Kalau antum semua sudah tahu/faham bahwa nabi dan tiga generasi sesudahnya tidak pernah melakukan hal-hal tersebut (Maulid) kenapa antum harus bercape-cape untuk melakukannya apakah antum mengira dengan merayakan hal tersebut antum lebih utama dari nabi dan sahabatnya
ya krn kita menyadari rosululloh utama itu kita merayakan maulidan ... klo kita merasa lebih mulya ya kita bukan ngadain maulidan tp mengadakan acara seperti maulidan tp yg isinya menuliskan sejarah kita sendiri...
lha klo kita ga hidup di masa sahabat siapa yg kita anut klo bukan ulama serta guru kita dr siapa kita tau agama klo bukan ulama juga guru guru kita... lha klo ulama juga guru guru kita merayakan maulidan masa kita yg cmn murid mo mbangkang namanya murid kurang ajar itu...
setuju kata mbak ifa ... klo kita ngrayain ultah sendiri tp g angrayain ultah rosul itu yg namanya berlebihan.. ga menghormati amat..
_________________ ***** |
|
|
|
 |
Eni.eni Aktif Bicara


Sejak: Dec 26, 2007 Post: 25 Lokasi: Jln.Pancoran air, Jakarta
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 8:17 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
dari segi syariat, perayaan itu tidak memiliki dasar, karena seandainya itu disyariatkan, tentu dikerjakan Rasulullah atau disampaikan kepada umatnya. Jika dikerjakan atau disampaikan, tentu terjaga karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya," (Al-Hijr:9).
Jika diketahui bahwa peringatakan hari Maulid Nabi bukan termasuk syariat maka dia bukan termasuk agama Allah, jika bukan termasuk agama Allah maaka hukumnya tidak boleh bagi kita unutk berbidah kepada Allah denganya dan mendekatkan diri kepada Allah denganya. Jika Allah telah menetapkan bahwa untuk bisa sampai kepada-Nya harus menggunakan cara-cara tertentu seperti yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu Alahi Wa Sallam, mengapa kita harus membuat jalan sendiri untuk bisa sampai kepada Allah? Membuat syariat dalam agama Allah yang bukan merupakan bagian darinya termasuk kejahatan terhadap hak Allah. Tindakan itu juga berarti mendustakan fimran Allah, "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu." (Al-Maidah: 3).
Menurut kami, jika peringatan maulid itu termasuk kesempurnaan agama pasti sudah dilakukan sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu Alahi Wa Sallam, dan jika bukan termasuk kesempurnaan agama, tidak mungkin dikatakan bagian dari agama, karena Allah berfirman, "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu ..."
Barang siapa yang mengira bahwa peringatakan Maulid Nabi termasuk kesempurnaan agama maka dia telah membuat hdits tersendiri setelah Rasulullah, karena perkataannya itu mengandung unsur pembohongan terhadap ayat-ayat Allah. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam itu bertujuan untuk mengagungkan beliau dan menampakan rasa cinta mereka kepada beliau serta meningkatkan semangat dalam beribadah; semua itu termasuk ibadah; Karena mencintai Rasulullah adalah ibadah bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga Rasulullah menjadi orang yang paling dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, kedua orang tuanya dan semua manusia. Mengagungkan Rasulullah termasuk ibadah dan mengungkapkan kerinduan kepada-Nya juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya ada kecondongan kepada syariatnya. Dengan demikian mengadakan peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alahi Wa Sallam dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan Rasulullah termasuk ibadah. Padahal, menciptakan sesuatu yang baru dalam agama Allah yang bukan merupakan bagian darinya hukumnya tidak boleh. Dengan demikian, memperingati Maulid Nabi adalah bid'ah yang diharamkan.
Kemudian kita dengar, dalam peringatakan itu ada kemungkaran yang besar yang tidak sesuai dengan syariat, tidak diterima indera dan tidak difahami oleh akal. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan lagu –lagu yang didalamnya ada pujian yang berlebih-lebihan kepada Rasulullah, hingga menjadikannya lebih agung dan besar dari pada Allah, na'udzubillah. Kita juga mendengar adanya kebodohan sebagian oang yang mengadakan peringatan itu yaitu tatkala orang membaca sejarah kelahiran Nabi itu sampai kepada perkataan "Wulida Al musthofa" mereka berdiri semua dengan beranggapan bahwa ruh Muhammad Shallallahu Alahi Wa Sallam dating maka kita berdiri untuk memuliakannya. Ini adalah kebodohan dan tidak sopan kepada Rasulullah Shallallahu Alahi Wa Sallam, karena beliau tidak suka jika seorang sahabat berdiri karena kedatangannya padahal sahabat adalah orang yang paling cinta kepada beliau dan paling memuliakannya, tetapi mereka tidak berdiri karena mereka tahu bahwa beliau tidak senang hal itu, padahal beliau pada saat itu masih hidup. Lalu bagaimana dengan hayalan-hayalan fatamorga itu?
Ini adalah bid'ah –yakni bid'ah maulid- yang terjadi setelah tiga abad masa keemasan berlalu, lalu diikuti dengan perkara-perkara mungkar yang lepas dari pokok agama, belum lagi adanya percampuran antara laki-laki dan perempuan dan masih banyak lagi kemungkaran-kemungkaran lain yang timbul di dalaamnya.
|
|
|
|
 |
nizya Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Mar 20, 2008 Post: 153
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 10:31 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
apa benar anda yakin itu ga ada dasarnya?????????? apa anda sudah mempelajari semua hadist ????????? dasar itu kan ga cmn al QUR'AN dan hadist aja ada ijma' qiyas......
teori aja dech mbak ... maulidan itu kan memulyakan dan mensyukuri anugrah cb klo rosul ga di lahirkan... islam ga ada khan....
klo nabi skrg pasti akan begitu.. yaitu sukanya memulyakan diri sendiri ... pasti akan mewajibkan kepada umatnya untuk memulyakanya...
itu salah satu bedanya rosululloh dgn manusia kebanyakan.... meski beliau udah di jamin surga tp beliau tetap merendah dan menyuruh umatnya untuk slalu bersholawat kepadanya...
klo maulidan itu inisiatif lah masa berterima kasih dan memulyakan aja nunggu disuruh....
seolah olah anda udah di kasi makan seseorang.. ga mgkn kan org itu bilang ke anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya..........
pdhl dlm berlomba lomba melakukan kebaikan itu sesuai kemampuan kan.... mgkn seandeinya ga ada maulidan mereka akan melupakan jika hari itu adlh hari kelahiran nabi yg udah berjasa dlm agamanya...
saya tanya dech.. secara nalar aja silahkan jawab..
dimana kejelekan maulidan???????????
sedang kata abdulloh bin bazz yg jd pegangan orang '' yg mengharamkan maulidan itu ga terbukti...
_________________ ***** |
|
|
|
 |
Vina User Aktif


Sejak: Dec 26, 2007 Post: 14 Lokasi: Srengat kec.Srengat Kab. Blitar jawa Timur
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 12:00 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Fakta yang sesungguhnya dari kehidupan Rasulullah SAW menegaskan bahwa
tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau pada tiap ulang tahun
kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para shahabat beliau pun
tidak pernah kita baca dalam sejarah pernah mengadakan ihtifal (seremoni)
secara khusus setiap tahun untuk mewujudkan kegembiraan karena
memperingati kelahiran Nabi SAW.
Bahkan upacara secara khusus untuk merayakan ritual maulid nabi SAW juga
tidak pernah kita dari generasi tabi'in hingga generasi salaf selanjutnya.
Perayaan seperti ini secara fakta memang tidak pernah diajarkan, tidak
pernah dicontohkan dan juga tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW,
para shahabat bahkan para ulama salaf di masa selanjutnya.
Perayaan maulid nabi SAW secara khusus baru dilakukan di kemudian hari.
Dan ada banyak versi tentang siapa yang memulai tradisi ini. Sebagian
mengatakan bahwa konon Shalahuddin Al-Ayyubi yang mula-mula melakukannya,
sebagai reaksi atas perayaan natal umat Nasrani. Karena saat itu di
Palestina, umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan. Sehingga terjadi
interaksi yang majemuk dan melahirkan berbagai pengaruh satu sama lain.
Versi lain menyatakan bahwa perayaan maulid ini dimulai pada masa dinasti
Daulah Fatimiyyah di Mesir pada akhir abad keempat hijriyah. Hal itu
seperti yang ditulis pada kitab Al-A'yad wa atsaruha alal Muslimin oleh
Dr. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. Disebutkan bahwa para
khalifah Bani Fatimiyyah mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, di
antaranya adalah perayaan tahun baru, asyura, maulid Nabi sAW bahwa
termasuk maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husein serta maulid
Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490).
Versi lainnya lagi menyebutkan bahwa perayaan maulid dimulai tahun 604 H
oleh Malik Mudaffar Abu Sa'id Kukburi.
Hukum Merayakan Maulid Nabi SAW
Mereka yang sekarang ini banyak merayakan maulid nabi SAW seringkali
mengemukakan dalil. Di antaranya:
1. Mereka berargumentasi dengan apa yang ditulis oleh Imam As-Suyuti di
dalam kitab beliau, Hawi li al-Fatawa Syaikhul Islam tentang maulid serta
Ibn Hajar Al-Asqalani ketika ditanya mengenai perbuatan menyambut
kelahiran nabi SAW. Beliau telah memberi jawaban secara bertulis:
Adapun perbuatan menyambut maulid merupakan bid'ah yang tidak pernah
diriwayatkan oleh para salafush-shaleh pada 300 tahun pertama selepas
hijrah. Namun perayaan itu penuh dengan kebaikan dan perkara-perkara yang
terpuji, meski tidak jarang dicacat oleh perbuatan-perbuatan yang tidak
sepatutnya.
Jika sambutan maulid itu terpelihara dari perkara-perkara yang melanggar
syari'ah, maka tergolong dalam perbuatan bid'ah hasanah. Akan tetapi jika
sambutan tersebut terselip perkara-perkara yang melanggar syari'ah, maka
tidak tergolong di dalam bida'ah hasanah.
2. Selain pendapat di atas, mereka juga berargumentasi dengan dalil hadits
yang menceritakan bahwa siksaan Abu Lahab di neraka setiap hari Senin
diringankan. Hal itu karena Abu Lahab ikut bergembira ketika mendengar
kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Meski dia sediri tidak pernah
mau mengakuinya sebagai Nabi. Bahkan ekspresi kegembiraannya
diimplementasikan dengan cara membebaskan budaknya, Tsuwaibah, yang saat
itu memberi kabar kelahiran Nabi SAW.
Perkara ini dinyatakan dalam sahih Bukhari dalam kitab Nikah. Bahkan Ibnu
Katsir juga membicarakannya dalam kitabnya Siratunnabi jilid 1halaman 124.
Syamsuddin Muhammad bin Nasiruddin Ad-Dimasyqi menulis dalam kitabnya
Mawrid as-sadi fi Mawlid al-Hadi : "Jika seorang kafir yang memang
dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal di dalamnya" (surat Al-Lahab ayat
111) diringankan siksa kuburnya tiap Senin, apalagi dengan hamba Allah
yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan
meninggal dengan menyebut "Ahad"?
3. Hujjah lainnya yang juga diajukan oleh para pendukung maulid Nabi SAW
adalah apa yang mereka katakan sebagai pujian dari Imam Ibnu Hajar
al-'Asqalani.
Menurut mereka, Ibnu Hajar telah menulis di dalam kitabnya, 'Al-Durar
al-Kamina fi 'ayn al-Mi'at al-thamina' bahwa Ibnu Kathir telah menulis
sebuah kitab yang bertajuk maulid Nabi di penghujung hidupnya, "Malam
kelahiran NabiSAW merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang
diberkahi, malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum mukmin,
malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam
yang tidak ternilai."
4. Para pendukung maulid nabi SAW juga melandaskan pendapat mereka di atas
hadits bahwa motivasi Rasulullah SAW berpuasa hari Senin karena itu adalah
hari kelahirannya. Selain karena hari itu merupakan hari dinaikkannya
laporan amal manusia.
Abu Qatadah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya
mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, menjawab, "Itulah hari aku
dilahirkan dan itulah juga hari aku diangkat menjadi Rasul."
Hadits ini bisa kita dapat di dalam Sahih Muslim, kitab as-siyam (puasa)
Pendapat yang Menentang
Namun argumentasi ini dianggap belum bisa dijadikan landasan dasar
pensyariatan seremoni maulid nabi SAW.
Misalnya cerita tentang diringankannya siksa Abu Lahab itu, mereka
mengatakan bahwa Abu Lahab yang diringankan siksanya itu pun hanya sekali
saja bergembiranya, yaitu saat kelahiran. Dia tidak setiap tahun merayakan
kelahiran nabi dengan berbagai ragam seremoni. Kalau pun kegembiraan Abu
Lahab itu melahirkan keringanan siksanya di neraka tiap hari Senin, bukan
berarti orang yang tiap tahun merayakan lahirnya nabi SAW akan mendapatkan
keringanan siksa.
Demikian juga dengan pujian dari Ibnu Katsir, sama sekali tidak bisa
dijadiakan landasan perintah untuk melakukan sermonial khusus di hari itu.
Sebab Ibnu Katsir hanya memuji malam hari di mana Nabi SAW lahir, namun
tidak sampai memerintahkan penyelenggaraan seremonial.
Demikian juga dengan alasan bahwa Rasulullah SAW berpuasa di hari Senin,
karena hari itu merupakan hari kelahirannya. Hujjah ini tidak bisa
dipakai, karena yang saat dilakukan bukan berpuasa, tapi melakukan
berbagai macam aktifitas setahun sekali. Kalau pun mau berittiba' pada
hadits itu, seharusnya umat Islam memperbanyak puasa sunnah hari Senin,
bukan menyelenggarakan seremoni maulid setahun sekali.
Bahkan mereka yang menentang perayaan maulid nabi ini mengaitkannya dengan
kebiasaan dari agama sebelum Islam. Di mana umat Yahudi, Nasrani dan agama
syirik lainnya punya kebiasaan ini. Buat kalangan mereka, kebiasaan agama
lain itu haram hukumnya untuk diikuti. Sebaliknya harus dijauhi. Apalagi
Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkannya atau mencontohkannya.
Dahulu para penguasa Mesir dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan
untuk tuhan-tuhan mereka. Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh
orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka
adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih, mereka menjadikannya hari
raya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin,
membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.
Dan akhirnya, para penentang maulid mengatakan bahwa semua bentuk perayaan
maulid nabi yang ada sekarang ini adalah bid'ah yang sesat. Sehingga haram
hukumnya bagi umat Islam untuk menyelenggarakannya atau ikut
mensukseskannya.
Jawaban dari Pendukung Maulid
Tentu saja para pendukung maulid nabi SAW tidak rela begitu saja dituduh
sebagai pelaku bid'ah. Sebab dalam pandanga mereka, yang namanya bid'ah
itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah (formal) saja, bukan dalam masalah
sosial kemasyarakatan atau masalah muamalah.
Adapun seremonial maulid itu oleh para pendukungnya diletakkan di luar
ritual ibadah formal. Sehingga tdak bisa diukur dengan ukuran bid'ah.
Kedudukannya sama dengan seorang yang menulis buku tentang kisah nabi SAW.
Padahal di masa Rasulullah SAW, tidak ada perintah atau anjuran untuk
membukukan sejarah kehidupan beliau. Bahkan hingga masa salah berikutnya,
belum pernah ada buku yang khusus ditulis tentang kehidupan beliau.
Lalu kalau sekarang ini umat Islam memiliki koleksi buku sirah nabawiyah,
apakah hal itu mau dikatakan sebaga bid'ah? Tentu tidak, karena buku itu
hanyalah sarana, bukan bagian dari ritual ibadah. Dankeberadaan buku-buku
itu justru akan membuat umat Islam semakin mengenal sosok beliau. Bahkan
seharusnya umat Islam lebih banyak lagi menulis dan mengkaji buku-buku
itu.
Dalam logika berpikir pendukung maulid, kira-kira seremonial maulid itu
didudukkan pada posisi seperti buku. Bedanya, sejarah nabi SAW tidak
ditulis, melainkan dibacakan, dipelajari, bahkan disampaikan dalam bentuk
seni syair tingkat tinggi. Sehingga bukan melulu untuk konsumsi otak,
tetapi juga menjadi konsumsi hati dan batin. Karena kisah nabi disampaikan
dalam bentuk syair yang indah.
Dan semua itu bukan termasuk wilayah ibadah formal (mahdhah) melainkan
bidang muamalah. Di mana hukum yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya
boleh, kecuali bila ada dalil yang secara langsung melarangnya secara
eksplisit.
Kesimpulan
Sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada di salah satu pihak
dari dua pendapat yang berbeda. Kalau pun kita mendukung salah satunya,
tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan ini
sebagai bahan baku saling menjelekkan, saling tuding, saling caci dan
saling menghujat.
Perbedaan pandangan tentang hukum merayakan maulid nabi SAW, suka atau
tidak suka, memang telah kita warisi dari zaman dulu. Para pendahulu kita
sudah berbeda pendapat sejak masa yang panjang. Sehingga bukan masanya
lagi buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya lantaran masih
saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.
Sementara di masa sekarang ini, sebagai umat Islam, kita justru sedang
berada di depat mulut harimau sekaligus buaya. Kita sedang menjadi sasaran
kebuasan binatang pemakan bangkai. Bukanlah waktu yang tepat bila kita
saling bertarung dengan sesamasaudara kitasendiri, hanya lantaran masalah
ini.
Sebaliknya, kita justru harus saling membela, menguatkan, membantu dan
mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan
tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita terjebak untuk terus bertikai,
maka para pemangsa itu akan semakin gembira.
|
|
|
|
 |
nizya Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Mar 20, 2008 Post: 153
|
Dikirim: Mon Mar 02, 2009 12:34 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
naitu boro boro saling menguatkan yg banyak mah dgn seenaknay mengatakan bid'ah dan semua bid'ah itu sesat... tanpa mau meneliti apapun alasan nya ... ya bid'ah hehe tp terserah lah yg penting saya yakin maulidan itu bener.. krn banyak manfaatnya buat saya... jika tdnya agak lupa perjuangan rosul itu ga gampang... jd inget lagi ....
_________________ ***** |
|
|
|
 |
aqinuel Luar Biasa Aktifnya

Sejak: Jan 14, 2009 Post: 342 Lokasi: rt 01 rw 02 kedungwilut-bandung-tulungagung-east java-idn.
|
Dikirim: Wed Mar 04, 2009 4:06 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Dalam literatur syar'i istilah amar ma'ruf nehi 'n al munkar tidak boleh di lakukan scr brutal tapi harus melalui konsep2 yang sudah diajarkan syara' yaitu sebagai berikut:
1.Munkar yg di hilangkan adalah sebuah munkar syar'i yang mujma' 'alaih dan bukan masalah yg mash ada khilaf.Jadi maulid yg mash ad khilaf tidak boleh dilarang apalagi qoul yg mengatakan bid'ah sangat lemah.
2.Munkar yg perlu dihilangkan adalh munkar menurut madzhab orang yg mengerjakan,maka seorang madzhab hanafi tak boleh melarang Madzhab Syafi'i untk tidak berqunut.Oleh karna itu yg bilang maulid bid'ah gak usah melarang orang2 yg menggalakkan maulid.
3.Harus melalui konsep bertahap akhoff fal akhoff.Makanya jangan mukul dulu sebelum memberi nasehat dan petuah.
4.Tidak ada ketakutan atas diri,harta atau kehormatan,bila takut ckp dengan inkar di hati aja
Harapan kita... marilah Ummat islam bersatu padu,jangan terpecah belah dan jalan trus,ingat zionis dan antek2nya nashoro siap menghancurkan kita.Anda siap berjihad???
_________________ Kuangen pd Ibu,bpk,saudara2i,pengen sungkem minta maaf, setelah it matipun rela.........
(Homesick mode on) |
|
|
|
 |
ferdy User Aktif


Sejak: May 10, 2009 Post: 15 Lokasi: Jln. Basuki rahmad kampung dalem tulungagung
|
Dikirim: Fri Feb 19, 2010 9:40 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Penentangan Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap Wahabi PDF Print E-mail
Written by Administrator
Ini tidak untuk membicarakan sejarah adanya Wahabi namun mengenai penentangan-penentangan dari Ulama Ahlus sunnah terhadap Wahab. Adapun mengenai sejarah wahabi, tentu saja akan berbeda antara sejarah versi Wahabi dan versi non-Wahabi, oleh karena itu kami hanya mengemukakan penentangan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Wahabi, sebab ulama Ahlus sunnah memang menentang adanya Wahabi dan pengakuan terhadap Wahabi, sebenarnya hanya dari kalangan Wahabi sendiri, walaupun hal ini tidak lepas dari sejarah Wahabi sendiri.
Para ulama Hanabilah melakukan penentangan terhadap Muhammad bin Abdul Wahab dan mengeluarkan pernyataan bahwa akidahnya adalah sesat, menyimpang dan bathil. Tokoh pertama yang mengumumkan penentangannya terhadap pendiri sekte Wahabisme ini adalah ayahnya sendiri, yaitu Syekh Abdul Wahab, kemudian diikuti oleh saudaranya (kakaknya) yaitu Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab. Keduanya adalah dari Ulama yang bermadzhab Hanbali. Syekh Sulaiman menulis kitab yang berjudul ‘as-Sawa’iq al-Ilahiyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyah’ untuk menentang dan memerangi pemikiran bathil adiknya. Disamping itu penentangan juga berasal dari sepupunya, Abdullah bin Husein.
Mufti Mekkah madzhab Syafi’I, Syekh Ahmad Zaini Dahlan mengatakan, ‘Abdul Wahab, ayah Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang Ulama shaleh merupakan seorang tokoh ahli Ilmu, begitu juga dengan Syekh Sulaiman. Al-Syekh Abdul Wahab dan al-Syekh Sulaiman, keduanya dari awal ketika Muhammad bin Abdul Wahab mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduannya telah mencela dan mengkritika pendapat Muhamamad bin Abdul Wahab serta mereka berdua turut memperingatkan orang-orang mengenai bahaya pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab… “[Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, vol.2, hal.357]
Dalam keterangannya yang lain, beliau mengatakan, ‘bahwa ayahnya (Abdul Wahab) dan saudaranya (Syekh Sulaiman) serta guru-gurunya telah mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan perihal Muhammad bin Abdul wahab terhadap banyak persoalam dalam masalah agama” [Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, vol.2, hal.357]
‘Abbas Mahmud al-Aqqad al-Misri mengatakan, ‘orang yang paling kuat menentang adalah saudaranya sendiri yaitu Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab, penulis kitab as-Sawa’iq al-Ilahiyyah. Beliau tidak mengakui saudaranya itu berkedudukan sebagai Mujtahid dan mampu memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Al-Syekh Sulaiman berpendapat bahwa para Imam masa lalu, generasi demi generasi tidak pernah mengkafirkan asbab bid’ah, dalam hal ini tidak pernah timbul persoalan kufur sehingga timbulkan ketetapan mewajibkan mereka memisahkan diri daripadanya dan sehingga pula diharuskan memeranginya karena alasan tersebut’.
Al-Syekh Sulaiman juga berkata bahwa, Sesungguhnya perkara itu berlaku sebelum al-Imam Ahmad bin Hanbal yaitu pada zaman para Imam Islam, dia mengingkarinya manakala ada diantara mereka juga mengingkarinya, keadaan itu berkelanjutan sehingga dunia Islam meluas. Semua perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang yang anda kafirkan mereka karenanya, dan tiada seorang pun dari pada Imam Islam yang menceritakan bahwa mereka mengkafirkan (seseorang) dengan sebab-sebab tersebut. Mereka tidak pernah mengatakan seseorang itu murtad, dan mereka juga tidak pernah menyuruh berjihad menentangnya. Mereka tidak pernah menamakan negara-negara orang Islam sebagai negara syirik dan perang sebagaimana yang anda katakan, bahkan anda sanggup mengkafirkan orang-orang yang tidak kafir karena alasan ini meskipun anda sendiri tidak melakukannya.. ‘ [Al-Islam fi Al-Qarn al-‘Isyrin, hal.108-109]
Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, al-Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi as-Syafi’I, menulis surat berisi nasehat kepada Muhamamd bin Abdul Wahab ;
“Wahabi Ibnu Abdul Wahab aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum Muslimin, jika kau dengar seorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberikan manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberikan manfaat maupun mudharat, kalau dia menentang bolehkan kamu anggap dia kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan kelompok As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum Muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, dan yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan kaum Muslimin.
Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah sampai saat ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman,
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. An-Nisaa’ 4 : 115]
Rasulullah pun telah bersabda , “Umatku tidak akan bersepakat dalam perkara yang salah” [HR. at-Turmidzi, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daruquthni]
“Apa saja yang menurut pandangan kaum Muslimin itu baik, maka ia juga baik di sisi Allah, dan apa saja yang menurut pandangan kaum Muslimin itu buruk, maka buruk juga disisi Allah” [HR. Bukhari]
Wahabi adalah kelompok kecil yang memisahkan diri dari kaum Muslimin, sehingga sebenarnya merekah yang sesat.
Salah satu ajaran yang diyakini oleh pendiri sekte sesat wahabi (Muhammad bin Abdul Wahab) adalah menkufurkan kaum Muslimin sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, mauled Nabi dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlus Sunnah wal Jamaah berkaitan dengan tawassul, ziara kubur, mauled Nabi dan lainnya, ditolak dengen kebodohannya tanpa alasan yang bisa diterima.
Bahkan lebih jauh dari itu berbalik mengkafirkan kaum Muslimin sejak 600 tahun sebelumnya termasuk guru-gurunya sendiri.
Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tetap tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya. Boleh dikatakan Muhammad bin Abdul Wahab telah durhaka terhadap ayahnya sendiri dan lancing terhadap gurunya. Dengan dalih memurnikan ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di wilayah Najd.
Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyyah, Muhammad ibnu Saud (meninggal 1178 H/1765 M) pendiri dinasyi Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibnu Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul wahab. Jika dia menyuruh membunuh atau merampas harta seseorang dia segara melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum Muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik di jamin masuk surga.
Jelaslah bahwa Muhammad bin abdul wahab bukan saja sengaja mengada-ngadakan bid’ah dalam pendapat dan pemikirannya, bahkan beberapa abad sebelumnya, pendapat seperti itu telah didahului oleh Ibnu Taimiyah al-Harrani dan muridnya, Ibnu Qayyim Al-jauziyah dan tokoh-tokoh seperti mereka.
Kemudian Muhammad bin Abdul wahab datang dengan membawa pemikiran Ibnu Taimiyah dan bersekongkol pula dengan keluarga Saud dan saling mendukung diantara mereka dari segi pemerintahan dan ke-Islaman. Di Najd, kesesatan telah tersebar dan paham wahabiyah merebak di seluruh tempat ibarat penyakit kanker (al-saratan) dalam tubuh manusia.
Nampaknya kegemparan kesesatan seperti inilah yang telah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah sabdanya. Baginda SAW bersabda : ‘Ya Allah berkahilah negeri Syam kami, Ya Allah berkahilah negeri Yaman kami’. Para sahabat bertanya. “(Bagaimana) dengan negeri Najd kami “. Rasulullah bersabda, “Ya Allah berkahilah negeri Syam kami, Ya Allah berkahilah negeri Yaman kami’. Dan Rasulullah bersabda pada ketiga kalinya, “Disana (Najd) tempat timbulnya kegemparan dan fitnah , dan disana juga munculnya Tanduk Setan” [HR. Imam Bukhari, Muslim, Turmidzi]
Bahkan sebagaian ulama secara jelas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “tanduk Syaithan” adalah Musailamah Al-Kaddzab (Nabi Palsu) dan Muhammad bin Abdul Wahab. [Rujuk Kitab Sa’adah Ad-Darayn fi ar-Radd ala Firqatayn al-Wahabiyah…]
Keduanya, baik Musailamah al-Kaddzab dan Muhamamd bin Abdul Wahab sama-sama berasal dari Najd yang membawa kegemaparan bagi kaum Muslimin. Dalam sebuah hadits lain, Rasulullah bersabda saat berada di Madinah seraya menghadap ke timur, “Ketahuilah sesungguhnya fitnah berasal dari sana (menunjuk ketimur), dari sanalah muncul tanduk Syaithan” [HR. Imam Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad]
Sebagian golongan wahabi mencoba mengalihkan arah yang dimaksud ke negeri Iran dan Iraq (munculnya Syi’ah). Namun, jika melihat peta maka yang berada persis di sebelah timur Madinah adalah Najd (sekarang Riyadl).
Muhammad bin Abdul Wahab pada mulanya sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah al-Kaddzab, Aswad al-Insiy, Tuhailah al-Asadiy, dan lain sebagainya. Seperti dia memiliki keinginan untuk mengaku nabi, ini Nampak sekali ketika dia menyebut pengikut dari daerahnya ini dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikut dari luar daerah di juluki dengan Al-Muhajirin. Kalau seorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan kalimat syahadat di hadapannya, kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Secara tidak langsung, Muhamamd bin Abdul Wahab mengajari pengikutnya untuk durhaka kepada orang duanya. Muhammad bin Abdul Wahab sendiri adalah sebenarnya anak yang durhaka kepada orang tuanya, karena telah membuat ayahnya (Syekh Abdul Wahab) murka kepadanya. [Rujuk kitab Suhubul Wabilah ‘ala Dharaihil Hanabilah, karangan Mufti Mekkah]
Orang yang masuk dalam kelompoknya juga para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal-hal di atas, maka dia diterima jadi pengikutnya, kalau tidak dia langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Muhammad SAW dengan dalil pemurnian akidah, dia juga membiarkan pengikutnya melecehkan Nabi SAW dihadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata,
“Tongkatku ini masih lebih baik dari tongkar Muhammad, karena tongkaku masih bisa digunakan untuk membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali”.
Sekali lagi, jelaslah bahwa ‘tanduk Syaithan” itu adalah Muhammad bin Abdul Wahab, serta hal serupa dalam riwayat lain dinyatakan bahwa ketika ketika Rasul saw sedang membagi bagi harta maka datanglah seorang pria yg membelalak kedua matanya, lebat cambangnya, berkepala sulah (gundul), berkata : Takwa kepada Allah wahai Muhamad..!, maka Rasul saw bersabda : "Siapa yg takwa kepada Allah jika aku bermaksiat..?, apakah ALlah membuatku mengamankan bumi dg kebangkitanku dan kalian tak menganggapku amanah ?. maka berkata Khalid bin walid : izinkan aku menebas lehernya wahai Rasulullah.., namun Rasul saw melarangnya, lalu berkata : Sungguh akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yg mempelajari Alqur'an namun tidak melebihi tenggorokannya (hanya dilidah dan tidak menjiwainya), mereka semakin jauh dari agama sebagaimana menjauhnya panah dari busurnya., mereka memerangi orang islam, dan membiarkan para penyembah berhala, kalau aku menjumpai mereka akan kuperangi sebagaimana diperanginya kaum Aad”. [Shahih Bukhari]
Ini sama dengan karaktek kaum Wahabi yang tidak memulyakan Nabi Muhammad SAW dan yang mereka perangi dan cap sebagai kafir adalah kaum Muslimin (Ahl Kiblah).
Muhammad bin Abdul Wahab dihadapan pengikutnya tak ubahnya seperti seorang Nabi dihadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaannya semakin luas. Keduanya (Muhammad bin Abdul Wahab dan keluarga Saud) bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid Nabi dan lain sebagainya. Tak mengherankan bila pengikut Muhammad bin Abdul Wahab kemudian menyerang makam-makam mulya. Bahkan pada tahun 1802, mereka menyerang karbala Iraq, tempat makam cucu Rasulullah SAW yaitu Sayyidina Hussein, mereka berasalan bahwa tempat tersebut dianggap sebagai tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah.
Dia menipu kebanyakan manusia, madzhab mereka mengatas namakan tauhid dengan menjatuhkan hukuman kepada Ahl Tauhid, menumpahkan darah umat Islam dengan alasan Jihad menentang golongan musyrikin. Sehingga menyebabkan beribu-ribu orang, laki-laki dan wanita, kecil dan besar menjadi mangsa bid;ah mereka yang sesat. Ia juga turut menyebabkan perselisihan (khilaf) yang sempit semakin membesar dan menjadi-jadi dikalangan kaum Muslimin. Musibah itu akhirnya mencapai puncaknya dengan jatuhnya kedua kota suci umat Islam, Mekkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.
Penduduk Najd bermadzhab Wahabi memperoleh bantuan dan pertolongan dari Inggris yang ingin melihat perpecahan negara Islam. Mereka secara sengaja berusaha menghapuskan segala kesan dan peninggalan Islam di kota-kota Mekkah dan Madinah dengan memusnahkan kubur pada Wali (Auliya’) Allah, dan mencemarkan kerabat (keluarga) Rasulullah SAW dan yang lainnya dengan perbuatan yang tidak senonoh untuk menggoncangkan hati dan perasaan umat Islam.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan, ‘kemunculan secara tiba-tiba madzhab Wahabi dan sewaktu mereka memegang kekuasaan di Mekkah, operasi pemusnahan secara besar-besaran dilakukan oleh mereka dengan permusnahan awalnya, apa saja yang ada di al-Mu’alla, sebuah kawasan makam Quraiyh yang terdiri dari kubah-kubah (qubbah) yang begitu banyak, termasuk makam Sayyidina Abdul Mutthalib, kakek Baginda Nabi Muhammad SAW, makam Sayyidina Abi Thablib, dan Sayyidah Khadijah sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kubah-kubah tempat kelahiran Nabi SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Imam Ali Karramalllahu Wajhahu. Mereka juga memusnahkan kubah Zam-zam, dan kubah-kubah lain disekitar Ka’bah, selanjutnya berlanjut ke kawasan-kawasan lain yang memiliki kesan dan peninggalan orang-orang shaleh (Shalihin). Pada saat mereka melakukan pemusnahan itu, mereka membuang kotoran sambil memukul gendang (al-tubul), menyanyi dan mengeluarkan kata-kata mencaci, dan menghina kubur-kubur… sehingga dikatakan sebagian dari pada mereka mengencingi kuburan-kuburan pada Shalihin tersebut. [Takmilah al-Sayf al-Sayqal, hal.190, untuk penelitian selajutnya lihat, al-Jabarti, Kasyf al-Irtiyab, hal.40]
Sejarah juga mencatat salah satu jasa Nahdlotul Ulama (NU) yang paling besar adalah ketika dunia di goncangkan oleh berdirinya kerajaan Arab Saudi (al-Mamlakah al-Arabiyyah al-Sa’udiyyah) ;
Seorang gubernur Najd yang namanya Muhamamd Su’ud dengan Muhammad bin Abdul Wahab mendeklarasikan berdirinya kerajaan Arab Saudi, memisahkan diri dari kekuasaan Khilafah Islamiyah Turki Utsmani, kemudian mereka menang di Timur, lantas mengadapan ekspansi ke barat ke Mekkah.
Setelah mengusai Mekkah, orang Najd tersebut membuat goncangan terhadap dunia Islam, yaitu kediaman Abdul Mutthalib dijadikan WC, rumahnya Abu Thalib dijadikan kandang khimar, kuburan di Ma’la diratakan dengan tanah, tidak pandang bulu termasuk juga kubur Sayyidah Khadijah (Istri Baginda Nabi SAW), kubur Sahabat Abdullah bin Zubair, dan yang lainnya. Setelah selesai di Mekkah, kemudian pindah ke Madinah, kuburan di Baqi, 15.000 (lima belas ribu sahabat) diratakan dengan tanah, sampai sekarang pun kita tidak bisa mencari satu persatu makam sahabat yang mulya, hanya perkiraan saja. Terakhir, tersiri makam Baginda Rasulullah SAW, sahabat Sayyinah Abu Bakar as-Shiddiq, dan Sayyidina Umar bin Khattab, itu pun akan di bongkar.
Maka dari itu, KH. Abdul Wahab Hasbullah dan ulama-ulama lainnya terpanggil untuk membetuk komite yang dinamakan Komite Hijaz,dan mengutus beberapa orang utusan untuk menghadap raja Ibnu Saud , kemudian di terima oleh Raja Abdul Aziz, dan KH. Abdul Wahab meminta atas nama umat Islam agar pemerintah Saudi Arabia tidak membongkar makam Baginda Rasulullah SAW, beserta makam sahabat Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Pemerintaha Saudi juga hendakanya memberi kebebasan kepada Dluyaf al-rahman selama di Mekkah dan Madinah, baik haji atau umrah, melaksanakan ibadahnya sesuai dengan madzhabnya masing-masing. Semua permintaan dikabulkan oleh Raja Abdul Aziz, sehingga sampai sekarang makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar masih ada.
Bukan hanya itu, banyak sekali penghancuran yang dilakukan wahabi dan penyelapan terhadap warisan Islam.
Di Masjid Nabawi, dulu semua dinding dan tiang masjid awalnya dihiasi dengan puisi-puisi pujian terhadap Nabi saw. Para pengikut sekte Wahabi kemudian menghilangkan hiasan-hiasan itu, baik dengan mengganti dinding marmer itu, atau menghapusnya hingga tidak terlihat lagi hiasan puisi yang tersisa. Satu-satunya hal yang tidak dapat mereka lenyapkan adalah tulisan di depan mimbar pada mihrab (tempat salat imam) yang berisi pujian kepada Nabi saw. dan 200 nama beliau. Pada tahun 1936, orang-orang Wahabi bahkan berusaha memisahkan Masjid Nabawi dari makam Nabi, tetapi negara-negara Muslim bersatu menentang rencana tersebut dan berhasil menggagalkannya, sebuah keberhasilan yang sangat jarang terjadi.
Juga di depan gerbang menuju makam Nabi (al-muwâjihâh al-syarîfah), pada awalnya terdapat tulisan: Yâ Allâh! Yâ Muhammad! Pengikut sekte Wahabi kemudian menghapus huruf yâ’ dalam ungkapan Yâ Muhammad, sehingga hanya tersisa huruf alif, Â Muhammad, atau Muhammad saja. Belakangan mereka melangkah lebih jauh lagi dengan menempatkan kembali huruf yâ’ pada kata Yâ Muhammad, dan juga menambahkan titik di bawah huruf hâ’ sehingga menjadi huruf jim ( ?), dan menambahkan dua titik (di bawah huruf mîm) sehingga menjadi huruf yâ’. Dengan begitu, mereka telah mengubah nama Muhammad menjadi Majîd, salah satu asma Allah. Kini, tulisan tersebut menjadi: Yâ Allâh! Yâ Majîd! Persis seperti ketika melenyapkan makam para sahabat dan keluarga Nabi, mereka kini juga telah menghapus nama Nabi dari makamnya sendiri. [Penghancuran Madinah (Yatsrib) oleh Wahabi, Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani]
Kelakuan wahabi sungguh sangat bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah telah memulyaan Nabi SAW dan menempatkan nama Beliau bersanding dengan asma-Nya dalam kalimat syahadat.
Lebih jauh lagi, Masjid Qibalatain pun sekarang tinggal nama, dulu (1993) masjid ini memiliki dua mimbar, satu menghadap ke Mekkah dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis, tapi sekarang mimbar menghadap ke Masjidil Aqsha tidak ada lagi. Parit Khandak, “Tanah basah” tempat dimana Sayyidina Hamzah terbunuh pada perang Uhud, dan sebagian peningalan Islam lainnya tidak ada lagi.
Al-Allamah al-Sayyid Sadr al-Din al-Sadr mengatakan,
“Demi usia hidupku, sesungguhnya al-Baqi’ telah menerima nasib yang sangat malang, karena hati-hati yang kecewa, mengikuti nafsun dan berperangan budak-budakan, maka terjadilah pencetus segala kecelakaan, apabila tiada lagi kedamaian. Bagi umat Islam, kepada Allah mengadu, hak-hak Nabi-Nya yang telah memberi petunjuk dan syafaat.
Celakalah anak cucu Yahudi dengan perbuatan yang tidak senonoh yang mereka lakukan, mereka tidak mendapat apa-apa daripadanya dengan membogkar harim Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Neraka ‘wail” untuk mereka dengan apa yang mereka tentang terhadap orang-orang yang kuat. Mereka memusnahkan kubur orang-orang shalih dengan perasaan benci mereka. Hindarilah mereka karena sesungguhnya mereka membenci orang-orang yang terpilih (disisi Allah).
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, apabila suatu bid’ah itu muncul dikalaangan umatku, maka orang-orang alim hendaknya memperlihatkan dan menyampaikan ilmu mereka karena kalau mereka tidak melakukannya, laknat Allah akan ditimpakan kepada mereka.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Apabila bidah muncul dan orang-orang yang datang kemudian dari umat ini melaknat orang-orang yang terdahulu, maka barangsiapa yang memiliki keilmuan, hendaklanya menyampaikannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan keilmuannya pada hari itu seumpama orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad”
Para Shiddiqin ra. dari keluarga Rasulullah SAW mengatakan bahwa, “apabila bid’ah lahir, maka orang alim hendaklah menampakkan keilmuannya, sekiranya ia tidak berbuat demikian maka cahaya keimanan akan hilang”
Atas dasar inilah Sunni telah bangkit menentang serangan madzhab Wahabi. Mereka telah menulis kitab-kitab yang menjelaskan keburukan dan kejahatan tokoh-tokoh Wahabi yang berusah untuk merealisasikan cita-cita penjajah Inggris.
Ahlu bid’ah yang dimaksud diatas adalah ditujukan kepada kelompok wahabi, karena sesunggunya merekalah yang ahlul bid’ah dengan mengada-adakan ajaran baru dan menentang ajaran ulama salafus shaleh sebelumnya bahkan hingga mengkafirkan kaum Muslimin dan ulama Islam. Namun, wahabi dengan liciknya berusaha memutar balikkan fakta, kemudian bak “maling teriak maling”, pen.
Kitab pertama yang pernah di tulis untuk menolak dan menentang paham Muhammad bin Abdul Wahab adalah kitab as-Sawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyyah, yang ditulis orang Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab, saudara (kakak) kandung dari Muhammad bin Abdul Wahab.
Pada saat ini, sekte wahabi telah meningkatkan serangan mereka dalam membuat kerusakan dan bahaya bagi Islam. Dan pengikutnya meneruskan penentangan dan peperangan yang didalangi oleh keluarga Saud dengan bantuan dari pada keuntungan dari hasil minyak mereka. Pemerintah Saudi telah memperuntukkan sejumlah besar hasil keuntungan minyak mereka untuk menyebarkan dan mengambangkan madzhab ciptaan penjajah inggris ini di kalangan umat Islam. Kalau bukan karena kekayaan yang besar itu, maka madzhab wahabi tidak akan bertahan hingga saat ini. (Maka, wajar saja jika di Indonesia mulai marak diterbitkan buku-buku wahabi, pen)
Sangat jelas bahwa unsur-unsur penjajahan inggris meneruskan madzhab tersebut dan mereka mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuk mewujudkan perpecahan, persengketaan dan permusuhan, perselisihan, dan penentangan dikalangan umat Islam sendiri. Madzhab tersebut juga turut memperkuat dan mengukuhkan program-program penjajahan Inggris dengan mengadakan fitnah-fitnah dikalangan umat Islam, seperti menuduh orang Islam yang lain sebagai fasiq, kafir, musyrik, mubtadi’ dan lain sebagainya.
Umat Islam yang tidak prihatin dan memiliki pemikiran yang cetek dengan mudah diperdayakan oleh mereka sehingga akhirnya mereka secara sadar atau tidak, turut membantu usaha-usaha madzhab wahabi dan Inggris. Bahkan melaksanakannya dalam kehidupan mereka dengan meneruskan perbuatan dan tindakan biadab terhadap umat Islam lainnya yang dianggap sebagai lawan-lawan mereka. Keadaan yang berkelanjutan ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan mudah dipermainkan oleh musuh-musuh Islam yang bertopeng Islam.
Ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak tinggal diam dengan munculnya sekte wahabisme. Mereka bersatu memberantas aliran sesat ini. Berikut ini adalah daftar nama-nama Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah beserta kitab-kitabnya yang menolak paham wahabi (salafi palsu), dan telah memperingatkan umat akan bahaya paham tersebut,
1. Al-Ahsa’i Al-Misri, Ahmad (1753-1826) ; beliau menulis kitab khusus untuk menolak paham wahabi. Putra beliau, Syekh Muhammad bin Ahmad Ibnu Abdul Latif al-Ahsa’i juga menulis kitab dengan tujuan yang sama
2. As-Sayyid Abdurrahman al-Ahsa’I ; menulis 60 bait puisi dimulai dengan bait, Badat fitnatun kal layli qad ghattatil aafaqaa, wa sha’at fa kadat tublighul gharbawash sharaqa, (Fintah telah datang seperti senja kala menutupi langit, dan menyebar luas mencapai timur dan barat)
3. Al-‘Amrawi, Abdul Hayy dan Abdul Hakim Murad (Qawiyyin Universitas Maroko) ; al-tahdzir min al-ightirar bi maa ja’a fi kitab al-hiwar (Peringatan melawan pembodohan oleh kandungan kitab) oleh Ibnu Mani’ (sebuah debat dengan al-maliki) – Sebuah serangan kepada Ibnu ‘Alawi al-Maliki oleh penulis Wahabi
4. ‘Atha’allah al-Makki ; dalam kitabnya “al-Sarim al-Hindi fil ‘Unuq an-Najdi”.
5. Abdurrabbih ibnu Sulaiman asy-Syafi’i al-Azhari, penulis syarah Jami’ al-ushul li hadits ar-Rasul, kitab dasar ushul Fiqh : Fayd al-Wahab fi Bayan ahl al-Haqq wa man dalla ‘an as-Sawab, vol.4.
6. Al-Allamah Asy-Syekh Salama al-‘Azzami (1379 H) : al-Barahin as-Sata’it… “bukti-bukti yang bersinar..”
7. Abdul Wahab ibnu Ahmad al-Barakah asy-Syafi’i al-Ahmadi al-Makki, dalam kitabnya menolak paham salafy (Wahabi), namun tidak di publikasikan.
8. Musthafa al-Masri al-Bulaqi ; telah menulis 126 bait puisi menentang wahabi yang berjudul, “As-Sa’adah ad-Darayn..”
9. DR. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti (Universitas Damaskus) : as-Salafiyyati Marhalatun Zamaniyyatun Mubarakatun laa Madzhabun Islami (Salafi adalah sebuah sejarah yang penuh berkah bukan sebuah madzhab dalam Islam, Damaskus, Dar al-Fikr, 1988), Al-Lamadzhabiyya akhtaru bid’atin tuhaddidu asy-syari’a al-Islamiyah, Damaskus, Maktabah al-Farabi.
10. Asy-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1304 H), Ulama Syafi’iyyah Mufti Mekkah, Syaikhul Islam dan pemimpin Ulama tertinggi di daerah Hijaz. Kitab beliau, “ad-Durar as-Saniyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyah”, “Khulasah al-Kalam fi bayan Umara’ al-Balad al-Haram”
11. DR. ad-Dahish Ibnu Abdullah (Arab University of Marocco), Munazara ‘ilmiyya bayna ‘Ali ibnu Muhammad asy-Syarif wa al-Imam Ahmad ibnu Idris fi ar-Radd ‘ala Wahabiyah Najd, Tihama wa ‘Asir
12. Ad-Dajwi, Hamd Allah ; dalam kitabnya “al-Basa’ir li mukiri at-Tawassul ka amthal Muhammad Ibnu Abdil Wahab”.
13. Syakhul Islam Daud bin Sulaiman al-Baghdadi al-Hanafi (1815-1881) : “al-Minha al-Wahabiyyah fi Radd al-Wahabiyah”, dan “Ashadd al-Jihad fi Ibtal Da’wa al-Ijtihad”.
14. Al-Muhaddits Shalih Al-Falani Al-Maghribi, menulis buku besar jawaban-jawaban ulama 4 Madzhab dalam menangkal paham Wahabi (Salafy palsu, pen).
15. Muhammad ‘Ashiq ar-Rahman al-Habibi : “Adzab Allah al-Mujdi li Junun al-Munkir an-Najdi’ (Siksaan Allah yang pedih kepada pembangkang gila dari Najd).
16. As-Sayyid al-‘Alawi ibn Ahmad Ibn Hasan Ibn Qutb Sayyidi Abdullah Ibn ‘Alawi al-Haddad asy-Syafi’i al-Haddad : “as-Safy al-Batir li ‘unq al-Munkir ‘alaa al-Akabir” (Pedang yang tajam untuk leher pembangkang Imam-Imam Besar) dan juga kitab setelah 100 halaman yang tidak dipublikasikan berjudul, “Misbah al-Anam wa Jala’ az-Zalam fi Radd Shubah al-Bid’I an-Najdi allati adalla bihaa al-‘Awam” (Lampu umat manusia dan cahaya penerang pada kegelapan berkenaan dengan sanggahan pada kerusakan dan bid’ah dari Najd yang telah menyesatkan orang-orang awam).
17. Syekh Musthafa al-Hamami al-Misri : “Ghawth al-‘Ibad fi bayan ar-Rasyad”
18. Syekh Ibrahim Al-Hilmi Al-Qadiri Al-Iskandari ; “Jalal al-Haqq fi Kasyf ahwal ashrar al-Khalq”.
19. Al-Husaini, ‘Amili, Muhsin (1865-1952), “Kasyf al-Irtiyab fi atba Muhammad ibnu Abdul Wahab”, Maktabah al-Yaman al-Kubra.
20. ‘Abdullah Ibnu Abdul Latif asy-Syafi’I : “Tajrid Sayf al-Jihad ‘ala Mudda’i al-Ijtihad”.
21. Al-Allamah Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab an-Najdi, (kakak kandung dari –dajjal- Muhammad bin Abdul Wahab) : “as-Sawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ‘alaa al-Wahabiyah” (Petir-Petir Ilahi dalam menjawab Madzhab Wahabi)
22. As-Sayyid Muhammad Amin Ibn ‘Abidin al-Hanafi : “ar-Radd mukhtar ‘alaa ad-Durr al-Mukhtar, vol.3, Kitab Imam, Bab al-Bughat”, Kairo, Dar al-Tiba’a al-Misriyya, 1277 H.
23. Muhammad Ibn Abdurrahman Ibn ‘Afaliq al-Hanbali : “Tahakkum al-Muqallidin bi man ‘Idda’a Tajdi al-Din” (Sindiran tajam para muqallid kepada mereka yang menuntut pembaharuan agama) . Sebuah kitab yang meliputi banyak hal, yang mana membuktikan kesesatan-kesesatan Wahabi dan tidak bisa di jawab oleh –dajjal- Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya.
24. Dan masih banyak ulama ahlus sunnah yang menentang paham sesat Wahabi tersebut.
Demikianlah mengenai penentangan Ulama Ahlus Sunnah terhadap Wahabi.
_________________ alumni yaman. dan ma'dinululum |
|
|
|
 |
arifatul Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Nov 21, 2007 Post: 345 Lokasi: Jl.Kolonel Sugiono Ngingas Selatan Waru Sidoarjo jawa Timur Indonesia
|
Dikirim: Fri Feb 26, 2010 12:28 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Membesarkan Maulidurrasul samalah seperti kita membesarkan Islam karena Rasulullah (s.a.w) umpama simbol bagi agama Islam. Imam Mutawalli Sha'rawi telah menulis didalam kitab beliau, Ma'idat al-Fikr al-Islamiyya (ms. 295),"Jika setiap kejadian yang tidak bernyawa sekalipun, bergembira dengan kelahiran baginda (s.a.w) dan semua tumbuh-tumbuhan pun bergembira malahan semua binatang pun bergembira dan semua malaikat pun bergembira dan semua jinn Islam bergembira diatas kelahiran baginda (s.a.w), kenapa kamu menghalang kami daripada bergembira dengan kelahiran baginda (s.a.w)?"
di kutip dari:http://www.sunnah.org/publication/malay/maulid.htm#8-3
_________________
|
|
|
|
 |
SUBEQI Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Apr 30, 2008 Post: 98 Lokasi: Depan Pasar Durenan Trenggalek Jawa Timur
|
Dikirim: Fri Feb 26, 2010 12:30 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.
Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.
Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?
Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.
???? ?????? ????????? ?????????????? ?????? ????? ??????: ????? ???????? ????? ?????? ????? ???????? ????????? ?????? ???? ?????? ????????????? ???????” : ?????? ???????? ???????? ???????? ??????? . ???? ????
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:
???? ???????? ?????? ?????????????? ?????????? ??????????????? ???? ?????? ??????? ???????????
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:5 .
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
_________________
Brawijaya elektronik durenan
telp. 0355 879823
ym be.elektronik |
|
|
|
 |
muh.mujiono User Aktif


Sejak: Dec 26, 2007 Post: 12 Lokasi: banjaran,driorejo,gresik,jatim,indonesia.
|
Dikirim: Fri Feb 26, 2010 12:34 pm Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Maulid Nabi Muhammad SAW terkadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: ????? ???? ?????), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang dalam tahun Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW:
Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. . Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia:
Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di luar negeri:
Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja'far ash-Shadiq.
Perbedaan pendapat:
Terdapat beberapa kaum ulama yang berpaham Salafi dan Wahhabi yang tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah Bid'ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya. Namun demikian terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah hal bid'ah, karena merupakan pengungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
|
|
|
|
 |
aniy Luar Biasa Aktifnya


Sejak: Dec 09, 2008 Post: 50 Lokasi: brambang
|
Dikirim: Wed Mar 03, 2010 12:03 am Judul: Re: Galakkan maulid dibulan yg penuh berkah |
|
|
Panjang amiir tulisan2x, sapa yau kuat baca yach???
wes pada ngga' usah tengkar, yg mauludan ayo bareng2, yg ngga' mau kebeneran ngurangi jatah makan kekeee....
sollu alannabiy...
|
|
|
|
 |
|
|
|
Anda tidak dapat mengirim topik Anda tidak dapat menjawab topik Anda tidak dapat mengubah pesan Anda Anda tidak dapat menghapus pesan Anda Anda tidak dapat mengikuti polling You cannot attach files in this forum You cannot download files in this forum
|
INFO TERBARU
|
|